SEPUTARPOHUWATO.COM – Persoalan sedimentasi yang terjadi pada jaringan irigasi primer dan sekunder menjadi salah satu penyebab ribuan hektare lahan persawahan di Kecamatan Buntulia dan Duhiadaa, Kabupaten Pohuwato, belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Kondisi tersebut diungkapkan Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga, saat menghadiri Gerakan Tanam Serempak (Gertam) Padi dengan metode Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) di lahan Kelompok Tani Sejahtera, Desa Buntulia Utara, Kecamatan Buntulia, Kamis (30/07/2026).
Kegiatan itu turut dihadiri unsur Kodim 1313/Pohuwato, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato Kamri Alwi, pemerintah kecamatan dan desa, Ketua Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Umar Etango, para penyuluh pertanian, serta kelompok tani.
Sebelum pelaksanaan tanam serempak, seluruh peserta mengikuti zoom meeting bersama Gubernur Gorontalo yang diikuti kepala daerah serta jajaran dinas pertanian kabupaten dan kota se-Provinsi Gorontalo.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Saipul mengungkapkan bahwa persoalan utama yang dihadapi petani di kawasan Buntulia dan Duhiadaa bukan hanya keterbatasan pasokan air, tetapi juga sedimentasi yang menghambat aliran air pada jaringan irigasi.
Akibat kondisi tersebut, dari sekitar 2.200 hektare lahan persawahan yang ada di wilayah Buntulia dan Duhiadaa, baru sekitar 100 hektare yang dapat ditanami.
“Dari 2.200 hektare lahan persawahan Buntulia-Duhiadaa, yang baru bisa ditanam sekitar 100 hektare karena persoalan air,” ujar Saipul.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Pohuwato tidak tinggal diam menghadapi kondisi tersebut. Berbagai langkah terus dilakukan untuk mengembalikan produktivitas lahan pertanian, mulai dari pengangkatan sedimentasi hingga memperjuangkan pembangunan sistem irigasi baru.
Saipul menjelaskan, pemerintah daerah telah melakukan audiensi dengan Kementerian Pekerjaan Umum guna memperjuangkan pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT).
“Sistem JIAT ini memanfaatkan sumber air tanah yang kemudian ditampung pada bak penampungan sebelum dialirkan ke areal persawahan. Program ini membutuhkan anggaran yang cukup besar, tetapi kami terus memperjuangkannya demi kepentingan petani,” katanya.
Ia mengatakan, Pemkab Pohuwato mengusulkan pembangunan enam titik JIAT yang ditargetkan mulai dikerjakan pada Agustus 2026.
“Kami memperjuangkan ini, dan mudah-mudahan program JIAT untuk enam titik dapat dimulai pada Agustus. Diperkirakan satu titik JIAT mampu mengairi sekitar 10 hektare lahan persawahan,” ungkapnya.
Selain memperjuangkan pembangunan JIAT, pemerintah daerah juga terus mendorong normalisasi Sungai Taluduyunu sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan fungsi Daerah Irigasi Taluduyunu.
Normalisasi tersebut dinilai penting untuk mengurangi sedimentasi pada saluran primer dan sekunder sehingga distribusi air ke sekitar 2.200 hektare lahan pertanian dapat kembali berjalan optimal.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato, Kamri Alwi, mengatakan Gerakan Tanam Serempak dengan penerapan metode Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) merupakan salah satu langkah pemerintah dalam mempercepat modernisasi sektor pertanian.
Metode PM-AAS mengedepankan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) berteknologi modern serta sistem tanam yang lebih efisien untuk meningkatkan produktivitas.
Melalui program tersebut, Pemerintah Kabupaten Pohuwato berharap produktivitas pertanian terus meningkat, ketahanan pangan semakin kuat, dan kesejahteraan petani di Kabupaten Pohuwato dapat terus membaik.













