SEPUTARPOHUWATO.COM – Lebih dari dua dekade perjalanan Kabupaten Pohuwato sebagai daerah otonom turut diwarnai dinamika politik dan kelembagaan di parlemen daerah.
Sejak resmi terbentuk pada 2003, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pohuwato telah melewati sejumlah fase kepemimpinan. Kursi ketua pun berganti dari satu tokoh ke tokoh lainnya, seiring perubahan periode politik dan pemerintahan daerah.
Setidaknya ada empat tokoh yang tercatat pernah menduduki kursi Ketua DPRD Pohuwato, yakni Syarif Mbuinga, Suharsi Igirisa, Nasir Giasi, dan Beni Nento.
Masing-masing meninggalkan catatan tersendiri dalam perjalanan lembaga legislatif di daerah berjuluk Bumi Panua tersebut.
Nama Syarif Mbuinga menjadi bagian penting dalam sejarah awal DPRD Pohuwato.
Ia dipercaya memimpin lembaga legislatif pada periode 2004-2009, ketika DPRD Pohuwato mulai menjalankan perannya sebagai salah satu pilar penyelenggaraan pemerintahan daerah setelah terbentuknya Kabupaten Pohuwato.
Kepemimpinan Syarif kemudian berlanjut pada periode berikutnya. Namun, perjalanan tersebut tidak berlangsung hingga tuntas.
Pada 2010, Syarif Mbuinga mundur dari jabatan Ketua DPRD setelah dirinya terpilih sebagai Bupati Pohuwato.
Peralihan posisi tersebut menjadi salah satu momen penting dalam sejarah politik Pohuwato, ketika seorang pimpinan legislatif kemudian melanjutkan perjalanan politiknya di kursi eksekutif.
Kepergian Syarif dari kursi Ketua DPRD membuka ruang bagi Suharsi Igirisa untuk melanjutkan kepemimpinan.
Suharsi menjabat sebagai Ketua DPRD untuk melanjutkan sisa masa jabatan periode 2010-2014.
Namanya memiliki tempat khusus dalam sejarah DPRD Pohuwato. Suharsi tercatat sebagai politisi perempuan pertama yang memegang palu sidang tertinggi di DPRD Pohuwato.
Kehadirannya menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan politik daerah, terutama dalam sejarah keterwakilan perempuan di jajaran pimpinan parlemen Pohuwato.
Babak berikutnya diisi oleh Nasir Giasi dari Partai Golkar.
Nasir dipercaya memimpin DPRD Pohuwato selama dua periode penuh, 2014-2024.
Sepuluh tahun berada di kursi pimpinan membuat Nasir menjadi salah satu figur dengan masa kepemimpinan terpanjang dalam sejarah DPRD Pohuwato.
Dalam rentang waktu tersebut, DPRD Pohuwato menjalankan berbagai agenda legislatif bersama pemerintah daerah, termasuk pembahasan kebijakan daerah, anggaran serta pelaksanaan fungsi pengawasan.
Berakhirnya periode kedua Nasir pada 2024 sekaligus membuka lembaran baru dalam estafet kepemimpinan DPRD Pohuwato.
Kursi Ketua DPRD Pohuwato kemudian berpindah kepada Beni Nento, yang juga berasal dari Partai Golkar.
Beni resmi dipercaya menjadi Ketua DPRD Pohuwato untuk periode 2024-2029.
Kepemimpinan Beni menandai generasi berikutnya dalam perjalanan parlemen daerah setelah satu dekade berada di bawah kepemimpinan Nasir Giasi.
Dengan demikian, perjalanan kursi Ketua DPRD Pohuwato mencerminkan perubahan dari masa ke masa.
Syarif Mbuinga menjadi bagian dari fase awal terbentuknya parlemen definitif Pohuwato. Suharsi Igirisa mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin lembaga tersebut. Nasir Giasi menjalankan kepemimpinan selama dua periode penuh, sementara Beni Nento kini melanjutkan estafet untuk periode 2024-2029.
Empat nama, empat periode, dan empat cerita berbeda itu menjadi bagian dari perjalanan panjang DPRD Pohuwato.
Seiring waktu berjalan, palu sidang memang berpindah tangan. Namun, setiap kepemimpinan meninggalkan jejak dalam sejarah lembaga legislatif yang menjadi bagian penting dari perjalanan Kabupaten Pohuwato.













