SEPUTARPOHUWATO.COM – Ancaman kekeringan di Provinsi Gorontalo semakin serius seiring musim kemarau 2026 yang diprediksi berlangsung lebih panjang akibat pengaruh fenomena El Nino.
Di tengah kondisi tersebut, berbagai elemen masyarakat mulai memperkuat gerakan kemanusiaan untuk membantu warga yang terdampak krisis air bersih.
Salah satunya dilakukan oleh Yayasan Rakyat Tunas Indonesia Maju (YR TIM) Kolaborasi bersama AHS Centre, FRM Foundation, IMM, HMI, PMII, Karang Taruna, KNPI, serta sejumlah wartawan yang terus mendistribusikan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak.
Langkah tersebut dilakukan menyusul meningkatnya potensi kekeringan di Gorontalo yang kini berstatus siaga kekeringan meteorologis.
Berdasarkan analisis BMKG Gorontalo, sebagian besar wilayah Gorontalo mulai memasuki musim kemarau sejak Juni hingga Juli 2026. Puncak musim kemarau mayoritas wilayah terjadi pada Agustus 2026.
Tak hanya berlangsung panjang, musim kemarau tahun ini juga menunjukkan tingkat keparahan yang cukup tinggi.
Hasil analisis Stasiun Klimatologi Gorontalo mencatat panjang musim kemarau bervariasi antara 11 hingga 25 dasarian.
Wilayah timur Gorontalo seperti Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, dan Gorontalo Utara bahkan masuk kategori ekstrem dengan periode tanpa hujan lebih dari 60 hari.
Sementara Kabupaten Pohuwato dan Boalemo masuk kategori sangat panjang dengan periode tanpa hujan berkisar antara 31 hingga 60 hari.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko berkurangnya ketersediaan air bersih yang menjadi kebutuhan utama masyarakat sehari-hari.
Koordinator Lapangan YR TIM Kolaborasi, Zufrin Harun, menegaskan pihaknya berkomitmen melanjutkan distribusi air bersih selama musim kemarau masih berlangsung.
“Kami pastikan, distribusi air bersih ini akan terus dilakukan selama musim kemarau berlangsung. Ini merupakan bagian dari upaya YR TIM Kolaborasi membantu pemerintah dalam meminimalisir krisis air bersih,” ungkap Zufrin, Senin (07/9/2026).
Menurutnya, persoalan kekeringan dan ketersediaan air bersih tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata.
Diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar penanganan dampak kemarau dapat dilakukan secara lebih luas dan cepat.
Karena itu, YR TIM Kolaborasi mengajak pemerintah kecamatan hingga desa untuk ikut mengambil bagian dalam upaya membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih.
“Kami mengajak semua pihak, termasuk pemerintah kecamatan dan desa. Jika ada armada yang tersedia, kami YR TIM Kolaborasi akan siapkan tandon air yang nantinya siap dipakai untuk mendistribusikan air bersih di masing-masing wilayah,” jelasnya.
Zufrin berharap kolaborasi tersebut dapat memperluas jangkauan bantuan kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, organisasi kepemudaan, komunitas, relawan, media, dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi ancaman kemarau panjang yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga awal tahun 2027.
Dengan semangat gotong royong, berbagai pihak diharapkan dapat bersama-sama memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi di tengah ancaman kekeringan yang semakin meluas di Gorontalo.













