Scroll untuk baca artikel
Daerah

8 Warga Pohuwato Positif Malaria Usai Pulang dari Tambang Alamotu, Satu Meninggal Dunia

45
×

8 Warga Pohuwato Positif Malaria Usai Pulang dari Tambang Alamotu, Satu Meninggal Dunia

Sebarkan artikel ini

SEPUTARPOHUWATO.COM – Sebanyak delapan warga di Kabupaten Pohuwato dilaporkan positif terjangkit penyakit malaria usai pulang dari lokasi pertambangan emas di kawasan Alamotu, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato.

Dari delapan warga tersebut, satu orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

Berdasarkan hasil pemeriksaan serta keterangan dari sejumlah warga, penyakit malaria yang menyerang delapan warga tersebut diduga berasal dari kawasan pertambangan emas Alamotu.

Delapan warga itu diketahui merupakan pekerja tambang emas di wilayah tersebut.

Korban meninggal diketahui berinisial SA, warga Dusun Banjar, Desa Bumbulan, Kecamatan Paguat.

SA sempat pulang ke kampung halamannya dalam kondisi sakit sebelum akhirnya meninggal dunia saat menjalani perawatan di rumah sakit.

“Yang meninggal ini jaga ba jet di Alamotu. Semua ada delapan orang, dua orang yang kena, sisanya itu gejala, satu orang sudah meninggal,” ujar seorang narasumber yang enggan disebutkan namanya kepada awak media, Rabu (24/06/2026).

Istri korban, Ningsih, mengatakan suaminya sempat mengalami demam tinggi, sakit kepala, dan menggigil sepulang dari lokasi tambang.

“Jadi suami saya meninggalnya di rumah sakit. Sebelumnya sempat kejang-kejang di rumah,” kata Ningsih saat ditemui di kediamannya di Dusun Banjar, Desa Bumbulan, Kecamatan Paguat, Rabu (24/06/2026).

Menurut Ningsih, sebelum meninggal dunia, suaminya sempat mendapatkan suntikan obat karena kondisinya sempat membaik.

Namun, korban kembali naik ke lokasi tambang. Setibanya di rumah setelah turun dari tambang, kondisi korban justru semakin memburuk.

“Setelah turun dari tambang, suami saya panas, sakit kepala dan menggigil. Sebelumnya sempat disuntik, karena merasa sehat dia naik lagi ke tambang. Saat pulang ke rumah, tidak lama kemudian suami saya langsung kejang-kejang seperti orang tidak tenang dan ingin lari, sehingga harus ditahan warga,” ungkapnya.

Karena khawatir, keluarga kemudian membawa korban ke puskesmas.

“Sesampainya di puskesmas, suami saya langsung terdiam. Saya kemudian meminta rujukan ke rumah sakit. Belum berapa menit di UGD dan dipindahkan ke ICU, suami saya meninggal dunia,” tuturnya.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Pohuwato hingga Kamis (25/06/2026) belum membuahkan hasil.

Awak media telah dua kali mendatangi kantor Dinas Kesehatan untuk menemui pengawas (Wasor) penanggung jawab program malaria, Lia Saud. Namun, yang bersangkutan tidak berada di tempat.

Selain itu, upaya konfirmasi melalui sambungan telepon maupun pesan WhatsApp juga belum mendapat tanggapan.

Kasus ini kembali menjadi sorotan publik lantaran dinilai belum ada penyelesaian ataupun tindak lanjut yang jelas dari pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Pohuwato, termasuk tim yang sebelumnya telah dibentuk untuk menangani persoalan malaria tersebut.

Sejumlah pihak pun menilai persoalan malaria yang diduga berasal dari kawasan pertambangan tersebut seolah tidak lagi mendapatkan perhatian serius, meski telah menimbulkan korban jiwa.

Example 300250