SEPUTARPOHUWATO.COM – Keluhan warga soal cepat habisnya BBM bersubsidi di SPBU 74.962.10 Desa Buhu Jaya, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato, akhirnya mendapat tanggapan dari pihak pengelola SPBU.
Pengawas SPBU 74.962.10, Aldin Pakaya, saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa keterbatasan pasokan BBM belakangan ini dipengaruhi oleh sistem pengalihan distribusi dari kota, sehingga pengiriman ke SPBU Paguat masih dibatasi.
“Sebenarnya untuk torang pe kuota itu, kalau sekarang sementara pengalihan dari kota untuk pengiriman jadi masih dibatasi, kalau sebentar masuk cuma 8.000 liter. Kenapa dia bisa habis karena banyak antrian,” ujar Aldin.
Memang, Aldin mengaku, bahwa jumlah kendaraan yang mengantri sering kali melebihi kapasitas normal. Namun pihak SPBU, kata dia, telah menerapkan pembatasan pengisian untuk menghindari penumpukan.
“Untuk kendaraan itu memang kadang melebihi kapasitas, tapi torang hanya program dua kali saja. Awalnya Rp100 ribu, sisanya Rp50 ribu,” jelasnya.
Terkait pengisian menggunakan galon, Aldin dengan tegas mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan karena berdasarkan rekomendasi resmi dari Dinas Pertanian.
“Kalau galon itu ada rekomendasinya pak, itu rekom langsung dari Dinas Pertanian,” katanya.
Pria asal Sumalata Gorut ini juga membantah adanya jam-jam khusus dalam pelayanan bagi para pengetab BBM bersubsidi. Menurutnya, semua tetap diatur dengan prioritas utama pada jalur umum.
“Kita tidak ada jam-jam tertentu. Tetap kita atur, jalur umum dulu baru yang lain,” ujarnya.
Soal maraknya motor modifikasi atau para pengetab BBM dengan tangki hamil, yang terlihat bolak-balik mengisi BBM bersubsidi, Aldin menyebut hal itu merupakan bentuk toleransi dari pihak SPBU agar kuota BBM tidak tersisa dan berujung pengurangan jatah.
“Soal motor-motor modifikasi ini sebenarnya hanya bagian dari toleransi dari kami pihak SPBU, karena ketika mereka ini tidak kita kasih masuk dalam antrian, stok BBM kita luber karena dalam sebulan itu kuota itu ada 224.000 liter. Ketika kita tidak melakukan penebusan kami akan ada pengurangan kuota semacam target begitu sehingga dilayani lah mereka,” terangnya.
Diberitakan sebelumnya, warga mengeluhkan kondisi SPBU tersebut yang hampir setiap hari kehabisan stok BBM, meski kuota harian disebut mencapai 8.000 liter. Ironisnya, BBM jenis pertalite kerap habis sebelum sore hari.
“Datang setelah jam istirahat siang saja kadang sudah habis. Ini bukan sekali dua kali, hampir setiap hari,” keluh seorang warga, Jum’at (06/02/2026).
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya yang merasa heran karena kuota BBM yang seharusnya cukup untuk dua hari justru ludes dalam hitungan jam.
“Kuota 8.000 liter, satu hari sudah habis. Biasanya normal dua hari. Ini siang sudah kosong, ada apa?” ujarnya curiga.
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah sepeda motor rakitan, terutama jenis Suzuki Thunder, tampak bolak-balik mengisi BBM dalam satu hari. Bahkan motor yang sama terlihat berulang kali berada di antrian, memicu dugaan adanya pengisian berulang secara terorganisir.
Tak heran, meski jam operasional SPBU seharusnya hingga malam, SPBU Paguat kerap tutup lebih awal dikarenakan motor rakitan yang secara berulang mengantri. Sekitar pukul 17.00 Wita, palang bertuliskan “PERTALITE SEDANG DALAM PENGIRIMAN” sudah terpasang.
Situasi inipun memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait ketepatan sasaran penyaluran BBM bersubsidi. Pasalnya, SPBU yang kedapatan melayani kendaraan rakitan untuk pengisian BBM subsidi dapat dikenakan sanksi tegas.
Sanksi tersebut mulai dari surat peringatan, penghentian pasokan BBM selama satu bulan, hingga pemutusan hubungan kerja sama, sesuai ketentuan Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyaluran BBM Bersubsidi.




























