SEPUTARPOHUWATO.COM – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026, harga daging ayam dan sapi di Pasar Rakyat Marisa, Kabupaten Pohuwato, mengalami kenaikan. Kondisi ini justru membuat suasana pasar terpantau lebih sepi dari biasanya.
Sejumlah pedagang mengaku, kenaikan harga sudah terjadi sejak awal bulan Ramadan dan terus bertahan hingga mendekati Lebaran.
Salah satu pedagang daging sapi, Uki (44), mengatakan harga daging sapi kini berada di kisaran Rp150 ribu hingga Rp160 ribu per kilogram.
“Dari awal puasa memang sudah naik. Sekarang ini di harga Rp150 sampai Rp160 per kilo,” ujar Uki, saat ditemui seputarpohuwato.com, di lapak jualannya, Rabu (18/03/2026).
Sebelum Ramadan, kata dia, harga daging sapi masih di angka Rp140 ribu per kilogram. Namun karena harga sapi yang naik, pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual. Akibatnya, jumlah pembeli pun mulai berkurang.
“Pembeli berkurang, karena mereka kaget dengan harga. Tapi mau bagaimana lagi, harga sapi memang mahal,” katanya.
Meski begitu, Uki berharap masih ada masyarakat yang tetap membeli daging meski harga mengalami kenaikan.
“Harapannya tetap ada yang beli, walaupun mahal. Alhamdulillah masih ada juga pembeli walau tidak banyak,” tambahnya.
Hal serupa juga dirasakan pedagang daging ayam, Angko (34), yang mengatakan harga ayam mulai naik kembali menjelang Lebaran, meski tidak terlalu signifikan.
“Biasanya sebelum puasa naik, sempat turun di pertengahan, sekarang mau naik lagi. Paling naik Rp1.000 sampai Rp2.000,” jelasnya.
Saat ini, kata Angko, harga ayam kampung (ayam kota) berada di angka Rp25 ribu per ekor, ditambah biaya angkut sekitar Rp3 ribu sehingga menjadi Rp28 ribu per ekor.
Namun menurutnya, penyebab utama sepinya pembeli bukan hanya karena harga, melainkan juga lesunya aktivitas tambang di wilayah Marisa.
“Di sini pembeli banyak dari penambang. Sekarang tambang sepi, jadi sangat berpengaruh ke penjualan,” ungkapnya.
Biasanya, menurut Angko, para penambang bisa membeli ayam dalam jumlah banyak setiap hari. Namun saat ini, aktivitas tersebut hampir tidak ada.
“Dulu bisa sampai 10 ekor atau lebih per orang. Sekarang sudah jarang, bahkan ada hari cuma terjual beberapa ekor saja,” katanya.
Selain itu, tutupnya sejumlah toko emas juga ikut berdampak pada perputaran ekonomi masyarakat.
“Kalau toko emas tutup, penambang susah jual hasil. Dampaknya ke kami di pasar juga terasa, bukan cuma ayam, tapi semua bahan pokok,” tambahnya.
Akibat kondisi tersebut, penjualan ayam yang sebelumnya bisa mencapai lebih dari 100 ekor per hari, kini turun drastis menjadi sekitar 70 hingga 80 ekor saja.
Para pedagang inipun berharap, setelah Lebaran nanti aktivitas tambang dan toko emas kembali normal agar daya beli masyarakat meningkat dan pasar kembali ramai seperti sebelumnya.



























