SEPUTARPOHUWATO.COM – Kisah perjuangan warga Dusun Rimbun dan Dusun Hulota, Desa Wonggarasi Tengah, Kecamatan Lemito, akhirnya berbuah manis.
Setelah bertahun-tahun harus bertaruh nyawa melintasi jembatan darurat dari batang kelapa, kini pembangunan jembatan permanen resmi dimulai.
Jembatan yang menjadi akses utama masyarakat tersebut sebelumnya mengalami kerusakan parah sejak beberapa tahun terakhir.
Bahkan, pasca diterjang banjir pada 2022, bagian kaki jembatan putus dan lantainya roboh, membuat warga harus mencari cara sendiri agar tetap bisa melintas.
Dengan penuh keterbatasan, masyarakat bergotong royong menimbun jalan dan memasang batang pohon kelapa sebagai alas darurat.
Rupanya, dengan cara sederhana itu menjadi satu-satunya harapan agar aktivitas tetap berjalan, terutama bagi para petani dan anak-anak sekolah. Dan kini, harapan itupun mulai terjawab.
Melalui Program Jembatan Perintis Garuda dari Kodam XIII/Merdeka, pembangunan jembatan sepanjang 12 meter resmi dimulai dengan peletakan batu pertama, Jum’at (27/03/2026).
Kegiatan groundbreaking tersebut diikuti secara virtual oleh Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga, bersama unsur Forkopimda, di antaranya Dandim 1313 Pohuwato Letkol Arm. Fiat Suwandana, Kapolres Pohuwato AKBP Busroni, Kajari Pohuwato Arif Renaldi, serta pihak terkait lainnya.
Dalam kesempatan itu, Bupati Saipul A. Mbuinga menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas perhatian yang diberikan kepada wilayah Lemito.
“Alhamdulillah, masyarakat sangat antusias. Jembatan ini sudah sekitar 10 tahun mengalami kerusakan. Hari ini menjadi awal dimulainya kembali pembangunan,” ujarnya.
Bupati Saipul mengungkapkan bahwa jembatan tersebut tentu memiliki peran vital bagi masyarakat, khususnya bagi warga Dusun Rimbun yang berjumlah sekitar 54 kepala keluarga atau 189 jiwa.
“Jembatan ini sangat membantu aktivitas masyarakat, terutama petani dalam mengangkut hasil panen,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Wonggarasi Tengah, Husain Tuliyabu, mengungkapkan bahwa jembatan tersebut pertama kali dibangun pada 1993 melalui program ABRI Masuk Desa dengan konstruksi kaki beton dan lantai kayu.
“Pada 2015 sempat diperbaiki dengan lantai beton. Namun, banjir 2022 menyebabkan kerusakan parah hingga jembatan tidak bisa digunakan lagi,” jelasnya.
Meski demikian, kata Kades Husain, warganya pun tak tinggal diam. Mereka terus berupaya menjaga akses tetap terbuka meski harus menggunakan fasilitas darurat yang jauh dari kata layak.
Kini, dengan dimulainya pembangunan jembatan baru, warga menyambutnya dengan penuh haru dan harapan. Warga berharap jembatan tersebut dapat bertahan lama dan menjadi solusi permanen bagi kebutuhan mobilitas masyarakat.
Tak hanya itu, kegiatan peletakan batu pertama ini juga dirangkaikan dengan penyerahan bantuan sosial berupa paket sembako kepada masyarakat kurang mampu dan kaum duafa oleh Bupati Saipul Mbuinga bersama jajaran Forkopimda.

Pembangunan jembatan ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan jawaban atas doa panjang masyarakat yang selama ini mendambakan akses yang aman dan layak.





























