Oleh: Abdul Mutalib Karim, S.Hi
Ketua Himpunan Pemuda Al Khairaat (HPA) Kabupaten Pohuwato
SEPUTARPOHUWATO.COM – Hari Raya Idul Adha sejatinya bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Idul Adha adalah momentum menghadirkan kembali nilai pengorbanan, keikhlasan, kepedulian, dan ketundukan kepada Allah SWT sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Di tengah perkembangan zaman saat ini, ada kekhawatiran yang patut menjadi bahan renungan bersama.
Jangan sampai istilah “kurban” hanya ramai digunakan secara seremonial, tetapi hakikat kurbannya justru perlahan hilang dari kehidupan kita.
Sebab hakikat kurban bukan sekadar membeli sapi atau kambing, lalu selesai setelah hewan disembelih.
Kurban sejatinya adalah tentang bagaimana manusia mampu mengorbankan ego, kesombongan, sifat tamak, dan kepentingan pribadi demi nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan.
Allah SWT bahkan telah menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging maupun darah hewan kurban, melainkan ketakwaan hamba-Nya.
Artinya, ukuran utama kurban bukan pada besar kecilnya hewan, bukan pula pada ramai atau tidaknya publikasi, tetapi sejauh mana keikhlasan hadir dalam ibadah tersebut.
Kondisi hari ini terkadang membuat makna itu perlahan bergeser. Ada yang menjadikan kurban sekadar simbol status sosial, ajang pencitraan, bahkan hanya rutinitas tahunan tanpa penghayatan.
Ramai menggunakan istilah kurban, tetapi nilai pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari justru semakin menipis.
Padahal semangat Idul Adha seharusnya melahirkan pribadi yang lebih peduli terhadap sesama, lebih ringan membantu yang membutuhkan, serta mampu menahan diri dari sifat-sifat yang merusak persaudaraan dan kemanusiaan.
Kurban juga seharusnya mengajarkan kepekaan sosial bahwa di luar sana masih banyak masyarakat yang hidup dalam keterbatasan, yang mungkin hanya sekali dalam setahun menikmati daging kurban.
Di situlah letak keindahan Idul Adha, ketika kebahagiaan tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi dibagikan kepada orang lain.
Karena itu, Idul Adha perlu dimaknai lebih dalam, bukan hanya sebagai perayaan tahunan, melainkan momentum evaluasi diri.
Sudah sejauh mana kita benar-benar berkurban dalam hidup ini? Apakah hanya hewan yang dikurbankan, atau kita juga sedang berusaha mengorbankan sifat buruk dalam diri?
Jangan sampai kita ramai menyebut kurban, tetapi kehilangan ruh pengorbanan. Jangan sampai syiar agama tetap terdengar, namun substansi nilai yang diajarkan justru memudar.
Semoga Idul Adha tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga melahirkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian sosial yang semakin kuat di tengah kehidupan masyarakat saat ini.
















