SEPUTARPOHUWATO.COM – Setelah bertahun-tahun bergulat dengan sedimentasi lumpur tambang yang merusak aliran irigasi, kini upaya normalisasi sungai mulai memberi secercah optimisme.
Harapan ratusan petani di Kecamatan Buntulia dan Duhiada’a, Kabupaten Pohuwato pun perlahan kembali tumbuh.
Ketua Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) Daerah Irigasi Taluduyunu, Umar Etango, bersama para ketua kelompok tani menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada YR beserta Team yang telah membantu melakukan normalisasi sungai dan irigasi pertanian di wilayah Kecamatan Buntulia dan Duhiada’a.
“Alhamdulillah, aspirasi petani akhirnya mendapat perhatian. Kami sangat berterima kasih kepada YR dan YR Team yang sudah turun langsung membantu normalisasi sungai,” ujar Umar Etango, Ahad (01/02/2026).
Umar mengungkapkan, selama ini ada sekitar 1.500 hektare lahan sawah terdampak sedimentasi lumpur tambang yang masuk ke sistem irigasi. Kondisi itupun membuat aliran air menjadi tidak maksimal, bahkan sebagian lahan tidak bisa digarap secara optimal oleh petani.
“Lahan sawah petani di dua kecamatan ini terganggu karena irigasi tertutup lumpur. Akibatnya, produktivitasnya menurun dan petani kesulitan mengolah sawah,” tuturnya.
Pria yang aktif memperjuangkan aspirasi petani inipun berharap, dengan dilakukannya normalisasi sungai, lahan pertanian yang sempat terbengkalai dapat kembali dimanfaatkan.
Menurutnya, upaya ini bukan hanya soal pertanian, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat petani.
“Kalau air kembali lancar, maka sawah bisa digarap lagi. Dan ini sangat berarti bagi peningkatan produksi dan ekonomi petani,” katanya.
Apresiasi tersebut disampaikan Umar Etango didampingi Ketua P3A Ampera Jaya Abdulrahman Lukum, sesaat usai meninjau langsung pekerjaan normalisasi sungai yang dilakukan oleh YR Team.
Hingga saat ini, YR bersama timnya masih terus membantu proses normalisasi sungai dan irigasi pertanian guna mendukung peningkatan produktivitas sektor pertanian di Pohuwato.
Diketahui, YR Team merupakan sekelompok orang yang dibentuk oleh salah satu pelaku usaha pertambangan. Tim ini bekerja secara bersinergi untuk menjalankan misi bersama, termasuk dalam kegiatan sosial dan lingkungan, dengan fokus membantu masyarakat terdampak, khususnya para petani.


























